Pesantren Tunanetra Perluas Akses Belajar bagi Penyandang Disabilitas Netra

bumi pesantren | 01 Agustus 2026 18:30

 

Pesantren Raudlatul Makfufin didirikan oleh almarhum RM Halim Sholeh yang juga merupakan seorang dai tunanetra. Berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas netra, ia memulai kegiatan dengan menggelar pengajian rutin pada 1983. Inisiatif tersebut kemudian berkembang menjadi pesantren khusus tunanetra pertama di Indonesia.

 

Seiring perkembangannya, lembaga ini tidak hanya menyediakan pendidikan keagamaan, tetapi juga menyelenggarakan pendidikan formal mulai jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga majelis taklim. Dengan mengusung slogan “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya”, Raudlatul Makfufin berupaya menghadirkan pendidikan yang ramah dan setara bagi seluruh penyandang disabilitas netra.

 

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan literasi Braille. Pada 1996, RM Halim Sholeh menggagas digitalisasi Al-Qur’an Braille yang kemudian memasuki tahap pencetakan massal pada tahun 2000. Hingga kini, mushaf Al-Qur’an Braille hasil produksi Raudlatul Makfufin telah didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menjangkau sejumlah negara seperti Turki, Thailand, dan Afrika Selatan.

 

Untuk mendukung kemampuan membaca Al-Qur’an, yayasan juga menyusun buku Pandai Membaca Al-Qur’an Braille. Buku tersebut dirancang sebagai panduan pembelajaran huruf Arab Braille yang disesuaikan dengan kebutuhan penyandang tunanetra.