Ia menilai, tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. Menurutnya, dampak gejolak global lambat laun akan dirasakan hingga ke tingkat keluarga.
“Indonesia saat ini masih cukup kuat dalam memberikan subsidi BBM dibanding negara Asia Tenggara lain. Namun kondisi ini tidak akan selamanya. Dampaknya pasti sampai ke keluarga,” jelasnya.
Arumi menekankan pentingnya strategi penguatan peran ibu rumah tangga agar mampu menghadapi tekanan ekonomi. Ia menyebut, budaya hidup hemat sebenarnya sudah melekat, namun perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih terarah dan kolaboratif.
Di sisi lain, capaian penurunan stunting di Jawa Timur dinilai cukup signifikan. Dalam periode 2018–2024, prevalensi stunting turun dari 32,8 persen menjadi 14,7 persen, atau berkurang 18,1 poin persentase. Angka ini berada di bawah rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.
“Ini hasil kerja keras bersama. Tapi jika tidak kita jaga, terutama di tengah perubahan prioritas keluarga akibat tekanan ekonomi, kondisi ini bisa kembali memburuk,” tegasnya.