Dunia Kerja Berubah, Kompetensi Kini Lebih Dilirik daripada Sekadar Ijazah

komunitas | 03 Juni 2026 07:46

 

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat kebutuhan industri berubah lebih cepat dibandingkan kemampuan institusi pendidikan dalam memperbarui kurikulum. Akibatnya, muncul kesenjangan antara materi yang diajarkan di kampus dan kebutuhan nyata di dunia kerja.

 

Dalam bidang teknologi digital, misalnya, perusahaan lebih tertarik melihat kemampuan kandidat dalam mengembangkan aplikasi, mengelola data, atau memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan sekadar melihat asal universitas atau indeks prestasi akademik.

 

Data yang dikutip dalam artikel tersebut menunjukkan sekitar 86 persen perusahaan di Amerika Serikat kini menilai keterampilan lebih penting dibandingkan gelar formal dalam proses rekrutmen. Selain itu, kebutuhan terhadap gelar universitas pada pekerjaan berbasis kecerdasan buatan mengalami penurunan, sementara permintaan terhadap keterampilan AI terus meningkat.

 

Meski demikian, Sukarijanto menegaskan bahwa pendidikan tinggi tetap memiliki peran strategis. Kampus tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, kemampuan analitis, etika profesional, serta kemampuan menyelesaikan persoalan yang kompleks.

 

Ia menilai kesalahan yang sering muncul adalah anggapan bahwa gelar secara otomatis menjamin kompetensi seseorang. Padahal, dunia kerja modern semakin menuntut bukti kemampuan yang dapat diterapkan secara nyata.

 

Di Indonesia, fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan sarjana setiap tahun, sementara dunia usaha masih mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada jumlah lulusan, melainkan kualitas dan relevansi kompetensi yang dimiliki.