Zainul menegaskan, Disnaker Gresik tidak hanya fokus pada pelaksanaan pelatihan, tetapi juga melakukan pendampingan berkelanjutan agar peserta dapat terserap di dunia kerja atau membuka usaha secara mandiri. Berdasarkan data Disnaker, sekitar 90 persen alumni pelatihan tahun 2024 berhasil terserap di dunia kerja, sementara alumni 2025 masih dalam proses pemantauan.
“Kami tidak melepas peserta begitu saja. Pendampingan tetap dilakukan agar mereka bisa bekerja atau menciptakan usaha sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Diklat Industri Surabaya, Wido Eko Wardiono, menilai program ini sebagai bentuk sinergi nyata antara pemerintah dan sektor industri dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.
“Pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga menyiapkan masa depan ekonomi masyarakat agar lebih mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.