Ia menjelaskan, berbagai elemen visual seperti taman, air mancur, hingga area pameran sejarah masjid menjadi daya tarik tersendiri. Fenomena “ibadah sambil ngonten” justru dipandang sebagai peluang untuk mempererat hubungan generasi muda dengan masjid.
Upaya tersebut menunjukkan hasil. Meski sempat diguyur hujan, jumlah jemaah Tarawih tetap membludak, bahkan mencapai lebih dari 5.000 orang dalam satu malam.
“Alhamdulillah, jamaahnya tetap banyak. Ini menunjukkan masjid menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur, bukan hanya warga Surabaya,” tambahnya.