Pandangan serupa juga disampaikan Dubes Rusia. Kedua tokoh sepakat bahwa perdamaian harus ditempuh melalui dialog, sekaligus mengapresiasi peran Pakistan dalam mendorong upaya diplomatik di tengah ketegangan global.
Tak hanya isu geopolitik, pertemuan ini juga membahas peluang kerja sama Indonesia–Rusia, terutama di sektor pendidikan. Rusia disebut telah menyediakan sekitar 300 beasiswa bagi pelajar Indonesia—sebuah peluang besar yang disambut positif oleh PBNU.
Selain itu, kerja sama ekonomi syariah turut menjadi fokus pembahasan. PBNU saat ini mulai serius mengembangkan sektor tersebut melalui inisiatif Nahdlatul Ulama Harvest Maslahah (NHM) dan layanan Syariah Global Services (SGS). Bahkan, Rusia melalui Republik Tatarstan dijadwalkan menggelar agenda ekonomi syariah pada Mei mendatang dan berharap kehadiran delegasi NU.
Safari diplomatik ini menjadi rangkaian pertemuan strategis yang telah dilakukan Gus Yahya dengan sejumlah dubes negara penting, mulai dari Iran, Amerika Serikat, Arab Saudi, hingga negara-negara Teluk, Turki, Pakistan, China, dan Rusia.
Hasil dari seluruh pertemuan tersebut akan segera dirumuskan dan disampaikan kepada pihak terkait, termasuk pemerintah Indonesia, sebagai kontribusi nyata PBNU dalam mendorong perdamaian dan kerja sama global. (ivan)