Ia menilai edukasi kebencanaan menjadi bagian penting dalam pengembangan fungsi museum sebagai ruang pembelajaran publik. Museum, kata dia, tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Saya lihat antusias pengunjung tadi sangat luar biasa. Semoga ini bisa menjadi pengalaman sekaligus bekal untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan ketika menghadapi bencana,” ujarnya.
Selain memberikan pemahaman teori, peserta juga diajak mempraktikkan langsung langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi maupun kebakaran. Simulasi tersebut dipandu oleh tim BPBD Jatim sehingga peserta dapat memahami prosedur keselamatan secara lebih mudah dan aplikatif.
Salah satu peserta, Arum, warga Kecamatan Candi, Sidoarjo, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut. Ia yang datang bersama anaknya merasa pelatihan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman dasar mengenai penanganan bencana.
“Saya termasuk awam soal kebencanaan. Dari kegiatan ini saya jadi mengenal BPBD dan tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” katanya.