Ia juga menyoroti pentingnya literasi film, yakni kemampuan menafsirkan bahasa visual, struktur dramatik, serta konteks budaya dan genre produksi. Sementara di literasi sastra, ia menekankan peran imajinasi dalam puisi, cerpen, novel, dan esai, serta peluang kolaborasinya dengan medium film.
“Literasi sastra adalah kemampuan membaca, memahami, menafsirkan, dan menganalisis karya sastra, serta mengembangkan keterampilan berbahasa dan estetika,” jelas Okin.
Masuk ke pembahasan novel, Okin menjelaskan bahwa bentuk prosa panjang ini memiliki tema dan alur kompleks dengan narasi yang diperkuat oleh deskripsi dan dialog.
“Yang paling ditunggu dari novel adalah perubahan nasib tokohnya—apakah berakhir lebih baik atau sebaliknya. Pembaca berharap akhir yang memuaskan setelah membaca beratus halaman,” ujarnya.