Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ada dimensi adab yang harus dijaga, salah satunya melalui silaturahmi kepada guru. Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan guru dan murid merupakan bagian dari sanad keilmuan yang harus dirawat sepanjang hayat.
Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Abu Hamid al-Ghazali yang menyebut bahwa derajat guru lebih tinggi secara spiritual karena berperan dalam membimbing kehidupan akhirat. Artinya, menghormati guru bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Lebih tegas lagi, Burhanuddin al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menyatakan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa penghormatan kepada guru. Nilai ini menjadi dasar kuat dalam sistem pendidikan berbasis adab yang telah lama hidup di pesantren.