Ijazah SMEA menjadi modal bagi Sulthon untuk melamar puluhan pekerjaan. Kendati begitu, keberuntungan tidak kunjung berpihak. Pasalnya, hasil tes kesehatan yang dia dapat saat melamar menunjukkan hasil yang kurang bagus, seperti gigi berlubang.
Pekerjaan pertama akhirnya Sulthon dapatkan di SMP Muhammadiyah Sidoarjo sebagai staf tata usaha (TU). Pengalaman pertama ini dia manfaatkan untuk mengumpulkan setiap Rupiah agar bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Pada akhirnya, Sulthon bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan di IKIP Muhammadiyah Surabaya yang kini menjadi UM Surabaya. Dia dahulu mengambil jurusan Pendidikan Moral Pancasila (PMP).
"Waktu itu saya kuliahnya sore, pagi kerja jadi TU, malamnya saya tidur di sekolah kadang beralaskan tikar, kadang juga meja," ucapnya mengenang.
Setelah lulus sarjana, Sulthon memutuskan untuk tinggal di Surabaya serta mengajar di SMA Muhammadiyah Kapasan dan SMA Muhammadiyah Pucang.