Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menerangkan bahwa manusia perlu bekal, sebab perjalanan yang akan ditempuh merupakan perjalanan jauh, penuh dengan lika liku, penuh dengan tebing yang tinggi, dan lembah yang curam. Sehingga kalau tidak hati-hati, akan berhenti di tengah jalan.
"Jika kita tidak cancut tali wondo, tidak meringankan beban, maka kita akan apa? Berhenti di tengah jalan, kita tidak akan mampu meneruskan, tidak mampu meneruskan perjalanan yang jauh ini. Makanya Rasulullah saw memberikan wasiat pada salah satu sahabat jadidi safinah, perbaharuilah perahumu, bahteramu," terangnya.
Kiai Miftach mengungkapkan bahwa tujuan manusia sebenarnya sowan kepada Allah dan disyaratkan orang sowan harus punya tiket yaitu amal-amal saleh yang harus disertai dengan ilmu. Jika amal-amal saleh tidak ada ilmunya, sampai babak belur ibadah bisa mardudah, tertolak.
"Makanya ada riwayat yang mengatakan ngaji satu saat saja itu lebih baik daripada 70 tahun. Karena satu saat itu bisa merubah, memperbaiki, mentashih apa-apa yang dia semula tidak benar, salah. Akhirnya selama hidupnya akan bener terus gara-gara satu saat, apalagi 2 saat, 3 saat, dan seterusnya," ujarnya.