KLATEN, PustakaJC.co – Nama KH M Salman Dahlawi bukan sekadar tokoh pesantren. Ia adalah mata rantai penting dalam penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa, sekaligus penjaga warisan spiritual keluarga ulama besar dari Popongan, Klaten.
Dalam catatan Martin van Bruinessen melalui bukunya Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (1992), Kiai Salman disebut sebagai mursyid yang sangat dihormati di kalangan kiai tarekat. Ia melanjutkan sanad keilmuan dari kakeknya, KH M Manshur, dan buyutnya, KH Muhammad Hadi Girikusumo, yang dikenal sebagai pelopor penyebaran Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (25/4/2026).
Lahir pada 1 Maret 1936, Kiai Salman tumbuh di lingkungan Pesantren Popongan, yang kini dikenal sebagai Pesantren Al-Manshur. Sejak kecil, ia ditempa langsung oleh tradisi keilmuan keluarga ulama.
Perjalanan intelektualnya terbilang panjang. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren, mulai dari Al-Muayyad Surakarta hingga pesantren di Kediri, serta berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani saat menunaikan ibadah haji.