Untuk menghindari kecemburuan sosial, satu RW dikembangkan menjadi beberapa kampung tematik yang dikelola masing-masing RT. Dari sinilah lahir Wethan Wonderland, payung berbagai kampung wisata di kawasan tersebut. Kampung Jepang dikelola oleh 14 warga RT 5 secara mandiri.
Wisata ini tidak memungut tiket masuk dan dibuka setiap hari pukul 07.00–16.00 WIB. Sumber pendapatan utama berasal dari penyewaan kostum Jepang seharga Rp25 ribu per set, dengan omzet bulanan mencapai sekitar Rp6 juta. Pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan dan hasilnya dibagi untuk pengelola, kas pengembangan, serta kas RT.
Menariknya, lebih dari 85 persen properti kampung dibuat dari barang bekas, termasuk taman yang sebelumnya merupakan tempat pembuangan sampah. Keberadaan kampung wisata ini juga membuka lapangan kerja warga, mulai dari pengelola, UMKM, parkir, hingga spot foto.