Lebih lanjut, ia menduga Jalan Pulo Wonokromo saat ini dulunya merupakan selat yang memisahkan pulau tersebut dari daratan utama. Seiring waktu, sedimentasi dan perkembangan wilayah membuat batas tersebut menghilang.
Permukiman di kawasan ini mulai berkembang pesat sekitar tahun 1960-an, dipicu oleh arus urbanisasi akibat tekanan ekonomi di pedesaan.
Kini, Pulo Wonokromo telah berubah menjadi kawasan padat penduduk dengan pemanfaatan lahan yang maksimal, terutama di sepanjang bantaran sungai.
“Sekarang hampir tidak ada lahan kosong. Semua sudah menjadi permukiman yang padat,” pungkasnya. (frchn)