Nama Oost Java Bioskoop memiliki arti “bioskop di Jawa Timur” dan menjadi simbol hiburan modern pada masanya. Bangunan bekas bioskop tersebut bahkan disebut masih berdiri hingga sekitar tahun 1970-an, meski pengelolaannya sudah beralih ke masyarakat pribumi.
Selain Oost Java Bioskoop, terdapat pula Bioskop Luxor yang diyakini menjadi bagian dari jaringan bioskop awal milik pelopor hiburan layar lebar di Jawa Timur, Charles Jacob.
Perkembangan teknologi kemudian mengubah wajah industri perfilman di Surabaya. Dari era film bisu dengan iringan musik langsung, kini masyarakat dapat menikmati tayangan dengan kualitas audio dan visual yang semakin canggih.