Menurut Widiyanti, Gunung Bromo tidak hanya menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia, tetapi juga merupakan bentang alam penting sekaligus ruang hidup masyarakat Tengger. Karena itu, aspek lingkungan dan budaya harus dijaga secara berkelanjutan.
“Pemulihan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan. Kita ingin aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat kembali bergerak, namun alamnya juga harus tetap terlindungi,” ujarnya.
Kawasan wisata Gunung Bromo kembali dibuka untuk kunjungan wisata sejak Kamis (20/8/2026) pukul 00.01 WIB. Pembukaan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi kondisi kawasan pascakebakaran oleh Balai Besar TNBTS.
Adapun kuota kunjungan tetap ditetapkan sebanyak 2.752 wisatawan per hari. Wisatawan juga diimbau melakukan pemesanan tiket melalui kanal resmi dan memperhatikan informasi terbaru yang dikeluarkan Balai Besar TNBTS.
Pembukaan kembali kawasan Bromo diharapkan dapat memulihkan aktivitas pariwisata sekaligus perekonomian masyarakat sekitar. Sejumlah pelaku ekonomi yang terdampak antara lain pengemudi jip, pemandu wisata, serta pelaku UMKM.
Kementerian Pariwisata memastikan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk mendukung pemulihan aktivitas pariwisata serta memastikan wisatawan memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi destinasi. (ivan)