JOMBANG, PustakaJC.co – Rangkaian Napak Tilas Isyarat Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) mencapai titik penting di Jombang, Senin, (5/1/2026) dini hari. Ribuan jemaah Nadliyin mengiringi kirab tongkat dan tasbih—simbol amanah pendirian NU—hingga Pondok Pesantren Tebuireng.
Kirab dimulai dari Pendopo Kabupaten Jombang sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih enam kilometer, rombongan bergerak menuju Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, dan tiba sekitar pukul 21.30 WIB. Dilansir dari detik.com, Senin, (5/1/2026).
Rombongan inti dipimpin Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy. Setibanya di Tebuireng, rombongan langsung menuju Ndalem Kasepuhan untuk prosesi penyerahan simbol sejarah tersebut.
Tongkat dan tasbih yang diyakini berasal dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan itu diserahkan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Benda-benda tersebut dimaknai sebagai isyarat dan restu berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Prosesi berlangsung khidmat dan penuh haru. Usai penyerahan, rombongan melanjutkan ziarah dan doa bersama di makam KH Hasyim Asy’ari dan para masyayikh Tebuireng.
“Napak tilas ini penting untuk mengingat kembali perjalanan NU yang kini telah memasuki abad kedua,”ujar Gus Kikin.
Ia menegaskan, NU harus terus merespons dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai dasar Ahlussunnah wal Jamaah.
“Pesan para muassis jelas, NU harus mampu menyesuaikan perubahan agar tetap menjadi wadah umat Islam,” pungkasnya. (ivan)