SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) sebagai rumah besar kiai dan santri yang berperan menyejukkan bangsa, menjadi pendamai, serta referensi kehidupan penuh kebaikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) sekaligus peresmian Kantor Pusat JKSN di Surabaya, Minggu, (15/2/2026).
“Ini luar biasa. Ini adalah jaringan santri dan kiai Indonesia. Kita berharap ini menjadi rumah besar yang menyejukkan. Para ulama senantiasa menjadi penyejuk, pendamai, dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan,” ujar Khofifah, dikutip dari antaranews.com, Minggu, (15/2/2026).
Ia mengapresiasi pelaksanaan Rakernas Pergunu dan berharap peresmian kantor pusat JKSN membawa manfaat besar bagi jaringan kiai dan santri di seluruh Indonesia. Menurutnya, JKSN memiliki komitmen untuk membangun keseimbangan antara wawasan global dan kearifan lokal.
“Di JKSN kita bersama punya komitmen menjadikan ini rumah besar yang menyejukkan semua pihak. Dari sisi pikiran kita punya global mindset, tetapi dari sisi kebijakan tetap berpijak pada local wisdom,” katanya.
Khofifah menegaskan cita-cita menjadi penyejuk bangsa harus dimulai dari komitmen seluruh anggota, baik santri, kiai, maupun ulama, dengan menjunjung karakter akhlakul karimah sebagai pilar penguat negara.
Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengingatkan peran penting santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan, termasuk Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
“Inilah yang kita rayakan setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semuanya bermula di Jawa Timur. Nyala api itu tidak boleh redup, tetapi harus semakin besar agar kita bisa mengabdi sepenuhnya kepada bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum JKSN sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, menegaskan pesantren memiliki posisi strategis dalam sejarah pendidikan dan perjuangan bangsa.
“Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang telah memberikan layanan pendidikan bahkan sebelum sistem pendidikan formal berkembang. Pesantren juga menjadi sentral perjuangan melawan penjajah,” katanya.
Ia menambahkan, lahirnya organisasi ulama berakar dari komitmen menjaga persatuan dan mengembangkan paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sekaligus mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. (ivan)