Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Yogyakarta itu menilai karya seni lahir dari kesadaran dan kegelisahan kolektif yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai contoh, ia menyebut Sumpah Pemuda sebagai salah satu karya monumental yang lahir dari semangat persatuan dan kesadaran bersama bangsa Indonesia di masa perjuangan.
“Sumpah Pemuda adalah suara dari kegelisahan bersama suatu bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Jadul juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 dan Rakornas VII Lesbumi PBNU.
“Ucapan terima kasih dan apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu mempersiapkan kegiatan, mengawal proses kegiatan, hingga kegiatan ini selesai,” ungkapnya.
Menjelang penutupan, seluruh peserta diajak membaca Surat Al-Kautsar sebanyak tiga kali dan Surat Al-‘Asr sebagai bentuk ikhtiar memohon keberkahan kepada Allah SWT atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
Prosesi penutupan ditandai dengan penyerahan cinderamata dari Lesbumi PBNU kepada Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) sebagai tuan rumah kegiatan. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan salawat yang menandai berakhirnya rangkaian Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 dan Rakornas VII Lesbumi PBNU.
Melalui forum ini, Lesbumi PBNU berharap kebudayaan dapat terus menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban, memperkuat identitas bangsa, serta menjawab berbagai tantangan sosial yang berkembang di masa depan. (nov)