JOMBANG, PustakaJC.co – Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) VII Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi ditutup pada Ahad (14/6/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak 12 hingga 14 Juni 2026, dipusatkan di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), Jombang.
Ketua Lesbumi PBNU, Kiai M Jadul Maula, berharap penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia yang pertama ini dapat menjadi warisan berharga sekaligus agenda berkelanjutan bagi generasi Lesbumi pada masa mendatang.
Menurutnya, keberlanjutan forum kebudayaan tersebut penting sebagai ruang untuk merawat, mengembangkan, dan memperkuat peran kebudayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Harapan kami, kegiatan ini juga menjadi legasi agar nanti generasi Lesbumi selanjutnya masih terus menyelenggarakan Muktamar Kebudayaan Indonesia,” ujarnya saat memberikan sambutan penutupan.
Kiai Jadul menjelaskan bahwa Muktamar Kebudayaan Indonesia dan Rakornas VII Lesbumi PBNU menjadi ruang refleksi bersama bagi para pelaku seni dan budaya untuk membahas berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, seni memiliki fungsi penting sebagai medium untuk menyuarakan aspirasi, kegelisahan, dan pengalaman sosial yang belum selalu mampu diungkapkan melalui bahasa formal.
“Tugas seni adalah menyuarakan ekspresi masyarakat, juga membahasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat yang belum ditemukan bahasanya,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Yogyakarta itu menilai karya seni lahir dari kesadaran dan kegelisahan kolektif yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai contoh, ia menyebut Sumpah Pemuda sebagai salah satu karya monumental yang lahir dari semangat persatuan dan kesadaran bersama bangsa Indonesia di masa perjuangan.
“Sumpah Pemuda adalah suara dari kegelisahan bersama suatu bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Jadul juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 dan Rakornas VII Lesbumi PBNU.
“Ucapan terima kasih dan apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu mempersiapkan kegiatan, mengawal proses kegiatan, hingga kegiatan ini selesai,” ungkapnya.
Menjelang penutupan, seluruh peserta diajak membaca Surat Al-Kautsar sebanyak tiga kali dan Surat Al-‘Asr sebagai bentuk ikhtiar memohon keberkahan kepada Allah SWT atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
Prosesi penutupan ditandai dengan penyerahan cinderamata dari Lesbumi PBNU kepada Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) sebagai tuan rumah kegiatan. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan salawat yang menandai berakhirnya rangkaian Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 dan Rakornas VII Lesbumi PBNU.
Melalui forum ini, Lesbumi PBNU berharap kebudayaan dapat terus menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban, memperkuat identitas bangsa, serta menjawab berbagai tantangan sosial yang berkembang di masa depan. (nov)