Arief mencontohkan, santri yang terbiasa mempelajari kitab kuning akan mampu mengenali apabila AI menghasilkan kutipan atau penjelasan yang tidak sesuai dengan sumber aslinya. Dengan bekal pengetahuan tersebut, pengguna dapat meminta AI melakukan pemeriksaan ulang atau memperbaiki jawaban yang diberikan.
Ia menjelaskan, pemanfaatan AI seharusnya tidak membuat pengguna menerima seluruh informasi secara mentah. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dijadikan alat bantu yang tetap harus didampingi kemampuan analisis dan verifikasi dari penggunanya.
Pernyataan itu disampaikan dalam AI Teaching Power Impact Forum yang diselenggarakan NU Care Global bekerja sama dengan Microsoft di Jakarta.