Fenomena munculnya konten dakwah berbasis AI menjadi perhatian karena teknologi saat ini mampu menghasilkan gambar, video, maupun narasi yang tampak sangat realistis. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan informasi yang keliru apabila masyarakat tidak memiliki literasi digital yang memadai.
Karena itu, masyarakat diimbau selalu memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan referensi yang kredibel, serta mengonfirmasi materi keagamaan kepada ulama, kiai, atau sumber yang memiliki otoritas sebelum menjadikannya sebagai pedoman.
Peningkatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi bekal penting agar masyarakat dapat memanfaatkan perkembangan AI secara bijak tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
(int)