JOMBANG, PustakaJC.co – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dinilai harus menjadi momentum transformasi organisasi dalam menjawab tantangan zaman. Forum permusyawaratan tertinggi NU itu diharapkan tidak hanya menjadi agenda lima tahunan untuk memilih kepemimpinan baru, tetapi juga melahirkan arah strategis bagi penguatan peran NU dalam membangun peradaban. Pandangan tersebut disampaikan kolumnis NU Online, Sofian Junaidi Anom, dalam artikel opini berjudul Muktamar dan Jalan Peradaban Nahdlatul Ulama yang terbit Kamis, (23/7/2026).
Dalam tulisannya, Sofian menegaskan bahwa Muktamar memiliki makna lebih luas daripada sekadar forum suksesi kepemimpinan. Menurutnya, forum tersebut merupakan ruang untuk merumuskan kebijakan strategis organisasi dalam merespons persoalan keagamaan, kemasyarakatan hingga dinamika tata dunia yang terus berubah. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (23/7/2026).
Ia mengajak warga NU belajar dari sejarah perjalanan muktamar yang selama ini menjadi cermin respons organisasi terhadap perkembangan zaman. Sejak masa kolonial, penyelenggaraan muktamar dilakukan secara mandiri melalui gotong royong warga NU, mulai dari iuran anggota hingga pemanfaatan aset organisasi sebagai bentuk kemandirian.
Sofian juga menyoroti sejumlah keputusan penting yang lahir dari forum muktamar. Di antaranya pidato Nyai Djuaesih pada Muktamar ke-13 di Menes tahun 1938 yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan hingga menjadi tonggak lahirnya Muslimat NU. Selain itu, Muktamar Situbondo tahun 1984 yang menetapkan kembali Khittah 1926 dan menerima Pancasila sebagai asas organisasi disebut sebagai keputusan strategis untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.