Menurutnya, sejarah tersebut menjadi modal penting agar NU tidak kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman. Merawat ingatan kolektif, kata dia, bukan untuk bernostalgia, melainkan sebagai pijakan dalam menentukan langkah organisasi ke depan.
Dalam opininya, Sofian juga mengingatkan agar NU tidak terjebak pada persoalan simbolik semata. Ia menilai organisasi perlu memperkuat perannya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah dengan lebih aktif menjawab persoalan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengutip gagasan KH Achmad Siddiq tentang pentingnya membangun Ukhuwah Basyariyah atau persaudaraan sesama manusia, selain memperkuat Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah. Menurutnya, pendekatan tersebut semakin relevan di tengah berbagai krisis global yang terjadi saat ini.
Pada bagian akhir tulisannya, Sofian mendukung gagasan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengenai konsep “Pemerintahan Nahdlatul Ulama” (Hukumah an-Nahdlah). Konsep tersebut dimaknai sebagai upaya membangun tata kelola organisasi yang lebih sistematis, profesional, dan mampu memberikan pelayanan nyata kepada warga NU, bukan membentuk negara di dalam negara.