Ia menjelaskan, meski sebagian besar pesantren telah memiliki dapur umum yang melayani kebutuhan makan santri, dukungan MBG tetap diperlukan untuk meningkatkan kualitas pemenuhan gizi.
Usulan kedua yang disampaikan Menag adalah melibatkan ekosistem pesantren dalam rantai pasok bahan pangan program MBG. Menurutnya, banyak pesantren telah mengelola sumber bahan baku secara mandiri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pemasok kebutuhan program.
“Pemanfaatan sumber bahan baku dari pesantren tidak hanya dapat menekan biaya logistik, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi pesantren,” katanya.
Usulan ketiga berkaitan dengan penyesuaian mekanisme distribusi makanan. Menag menilai jadwal distribusi perlu disesuaikan dengan tradisi puasa sunah Senin dan Kamis yang dijalankan banyak santri di pesantren.