Ia menegaskan, muktamirin harus menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan terbaik untuk kepentingan jam’iyyah, baik dalam proses pemilihan Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) maupun kepengurusan NU yang akan datang.
Menurutnya, kepentingan jam’iyyah harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Pemimpin yang dipilih diharapkan merupakan sosok yang mampu membawa NU menuju kondisi yang lebih baik.
Kiai Ma’ruf juga mengingatkan konsekuensi moral bagi pihak yang sengaja memilih pemimpin yang dinilai tidak baik, sementara terdapat calon lain yang dianggap lebih baik.
“Jadi khianat kepada Nabi, khianat kepada pendiri (NU). Apalagi kalau memilihnya itu ada sesuatu, maka dosanya menjadi bertambah,” katanya.