Ia juga mendorong keterbukaan para fasilitator dalam memetakan kendala riil di lingkungan pesantren. "Tidak perlu malu, tidak perlu sungkan kita untuk menyampaikan apa yang terjadi di pesantren. Kalau kita tidak mengetahui secara basis problemnya, maka solusinya kita juga tidak bisa memberikan yang tepat," tambahnya.
Sementara itu, Perwakilan UNFPA Indonesia, Risya Ariyani Kori, menyebut NU sebagai mitra strategis dalam program unggulan kesehatan reproduksi remaja. Kerja sama UNFPA dan PBNU ini direncanakan bakal berjalan selama lima tahun ke depan.
National Programme Analyst untuk Pemuda dan ASRH UNFPA Indonesia, Margareta Sitanggang, menekankan bahwa edukasi kespro tidak boleh berhenti sekadar pada transfer pengetahuan akademis semata.
"Pendidikan kesehatan reproduksi ini tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi nantinya juga diharapkan menanamkan nilai dan melatih keterampilan di mana seorang santri bisa bertanggung jawab dalam mengambil keputusan yang benar untuk melindungi dirinya sendiri dan sesamanya," jelas Margareta.