Ia menegaskan, sekolah jurnalistik bukan sekadar pelatihan teknis menulis, melainkan bagian dari proses pembentukan cara berpikir kritis dan karakter mahasiswa.
“Kegiatan ini seharusnya tidak berhenti sekali. Harus dikembangkan secara berkelanjutan dan menjadi identitas Fakultas Agama Islam Universitas Billfath Lamongan dalam penguatan kualitas mahasiswa ke depan,” tambahnya.
Dari sisi mahasiswa, Ketua Umum BEM FAI Universitas Billfath Lamongan, Abdillah Dliyau Farchan, menyebut sekolah jurnalistik lahir dari kesadaran akan pentingnya budaya literasi di tengah derasnya arus informasi.
“Mahasiswa hari ini hidup di tengah banjir informasi. Karena itu, kemampuan menulis, berpikir kritis, dan memahami kerja media menjadi sangat penting. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen gagasan,” ujarnya.