SURABAYA, PustakaJC.co – PustakaJC.co berkolaborasi dengan Fakultas Agama Islam Universitas Billfath menghadirkan Media On Stage sebagai ruang diskusi publik yang membedah masa depan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi digital. Kegiatan ini digelar di Kompleks Villa Bukit Tlekung, Sabtu, (20/12/2025).
Dengan mengusung tema Jurnalisme Bertumbuh, Media Berdaya, forum ini menjadi panggung refleksi bersama tentang integritas, keberlanjutan, dan peran pendidikan dalam membangun ekosistem media yang sehat. Narasumber acara ini memadukan akademisi dan praktisi media.

Empat narasumber lintas latar belakang dihadirkan untuk memperkaya perspektif diskusi. Dari dunia akademik, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Billfath Lamongan, Muhammad Sya’roni, menegaskan pentingnya kolaborasi kampus dan media dalam membangun literasi serta karakter mahasiswa.
"Literasi media dan pendidikan karakter harus berjalan beriringan. Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus bijak dan kritis dalam bermedia, menjadi benang merah pandangannya, " ujar Roni.
Dari ranah komunitas, jurnalis sekaligus trainer literasi media, Yatimul Ainun, menyoroti peran media sebagai jembatan antara informasi dan publik. Menurutnya, kedekatan media dengan komunitas menjadi kunci lahirnya ekosistem informasi yang sehat dan partisipatif.

Sementara itu, jurnalis senior sekaligus koresponden Majalah Tempo, Eko Widianto, mengajak audiens melihat jurnalisme lebih dari sekadar produk berita. Ia menekankan pentingnya etika pers, jurnalisme data, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah tekanan algoritma dan kepentingan.
Dari sisi redaksi, Kepala Biro Harian Surya Malang, Iksan Fauji, membagikan pengalaman panjangnya menghadapi transisi media cetak ke digital hingga video. Ia menyoroti tantangan menjaga kualitas jurnalistik di tengah tuntutan target, traffic, dan kecepatan.
Diskusi dipandu oleh Owner PustakaJC.co sekaligus moderator utama, Solihan Arif, yang membuka forum dengan refleksi tajam: jurnalisme hanya dapat berdaya jika ditopang ekosistem yang kuat, dan pendidikan merupakan fondasi utamanya.

"Kita hidup di era ketika berita bisa viral dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan justru dibangun bertahun-tahun," ujarnya, menggarisbawahi tantangan utama media hari ini bukan sekadar teknologi, melainkan cara audiens memaknai kebenaran.
Diskusi mengalir dinamis, membedah dilema klasik antara idealisme dan realitas bisnis media, perubahan perilaku audiens muda, hingga pertanyaan mendasar: apakah media harus mengikuti selera publik atau justru mendidik audiens?
Sesi tanya jawab yang dipandu Direktur PustakaJC.co, Intan Buana Permata Ayu, memperlihatkan antusiasme peserta. Mahasiswa dan audiens aktif menyampaikan kegelisahan, kritik, serta harapan terhadap masa depan jurnalisme. Forum ini menegaskan bahwa publik bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga mitra kritis bagi dunia media.
Menutup diskusi, Solihan Arif menyimpulkan bahwa jurnalisme bertumbuh bukan semata karena teknologi atau bisnis, melainkan karena adanya kampus yang membuka ruang belajar, komunitas yang mau mendengar, dan jurnalis yang konsisten menjaga kebenaran.
"Pada akhirnya, media bukan tentang siapa yang paling cepat bicara, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab atas apa yang ia suarakan," pungkasnya.
Melalui Media On Stage ini, PustakaJC.co menegaskan perannya sebagai media yang tak hanya memproduksi berita, tetapi juga aktif membangun ruang dialog, literasi, dan kesadaran kritis demi terciptanya ekosistem jurnalisme yang lebih berdaya dan manusiawi. (int)