Selain itu, Pemkot Malang juga melakukan revitalisasi seni tradisional, termasuk mengaktifkan kembali gedung kesenian untuk pertunjukan Ludruk guna menjaga regenerasi seniman. Kehadiran Malang Creative Center (MCC) turut memperkuat transformasi budaya ke ranah digital, seperti pengembangan Batik Malangan dan Wayang Beber menjadi produk gim dan aplikasi.
Penguatan identitas lokal juga dilakukan melalui penggunaan bahasa walikan dalam program Dasa Bakti, seperti Ngalam Asyik dan Ngalam Pinter, sebagai bagian dari branding daerah berbasis budaya.
Komitmen Wahyu Hidayat dalam menyinergikan pelayanan publik dengan nilai-nilai budaya dinilai layak mendapat pengakuan nasional melalui Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026. Penghargaan ini diberikan atas kepemimpinan visioner yang berhasil menjadikan seni dan budaya sebagai jembatan pemberdayaan masyarakat.
Saat ini, Kota Malang tercatat memiliki 115 cagar budaya serta ratusan pelaku seni aktif. Kehadiran langsung wali kota dalam berbagai karnaval dan pawai budaya juga memberi dampak ekonomi langsung bagi pedagang kecil dan pelaku industri kreatif.
Melalui langkah tersebut, Kota Malang kian menguat sebagai contoh daerah yang mampu menyelaraskan kemajuan zaman dengan keagungan warisan budaya secara harmonis. (ivan)