JAKARTA, PustakaJC.co – Pemerintah mempercepat langkah reformasi pasar modal nasional sebagai upaya memperkuat transparansi, integritas, dan daya saing iklim investasi Indonesia. Arahan tersebut datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran kementerian dan lembaga di sektor ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Presiden menekankan pentingnya pembenahan struktur pasar modal, termasuk reformasi kelembagaan bursa efek dan peningkatan kualitas tata kelola perdagangan saham. Dilansir dari duarasurabaya.net, Senin, (1/2/2026).
“Bapak Presiden memerintahkan percepatan reformasi integritas pasar, antara lain melalui demutualisasi bursa dan peningkatan likuiditas dengan menaikkan minimum free float menjadi 15 persen sesuai standar global,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu, (31/1/2026) malam.
Menurut Airlangga, peningkatan porsi saham yang beredar di publik akan membuat lebih banyak saham tersedia di pasar. Langkah ini diharapkan dapat memperdalam likuiditas, mendorong transparansi, serta memperbaiki kualitas tata kelola pasar modal Indonesia.
Selain peningkatan free float, pemerintah juga tengah menyiapkan aturan terkait demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
Melalui demutualisasi, struktur kelembagaan BEI akan berubah dari bursa yang hanya dimiliki anggota bursa menjadi perseroan yang memungkinkan kepemilikan oleh publik secara lebih luas.
Pemerintah juga berkomitmen memperketat pengaturan kepemilikan akhir saham (beneficial ownership) agar struktur kepemilikan emiten semakin terbuka dan mudah ditelusuri. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan praktik terbaik internasional untuk menciptakan pasar modal yang efisien dan berintegritas.
Langkah percepatan reformasi ini dilakukan di tengah tekanan yang sempat dialami pasar modal domestik. Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam setelah pengumuman review dan rebalancing saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
IHSG tercatat sempat anjlok lebih dari tujuh persen selama dua hari perdagangan akibat kekhawatiran kemungkinan turunnya status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. (ivan)