Gangguan distribusi LNG dari kawasan Teluk, yang selama ini menjadi pemasok utama bagi negara-negara Asia, turut menambah tekanan terhadap pasar global. Para analis memperkirakan, jika eskalasi konflik berlanjut dan menyerang lebih banyak fasilitas energi, harga minyak berpotensi menembus 150 dollar AS per barel.
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pasar energi global terhadap konflik geopolitik, khususnya di kawasan yang menjadi pusat produksi minyak dan gas dunia. (frcn)