Eko juga menyoroti fenomena brain rot akibat konsumsi konten instan secara berlebihan. Kondisi ini dinilai dapat menurunkan daya fokus dan kemampuan berpikir kritis. Ia pun mendorong generasi muda untuk kembali membangun budaya literasi, salah satunya melalui kebiasaan membaca buku fisik.
Sementara itu, Asisten Manajer Bank Indonesia Jawa Timur, Desak Gede Pradnyani Widiastuti, mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi turut diikuti meningkatnya berbagai modus kejahatan digital, seperti phishing, penipuan melalui media sosial, hingga love scam.
Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kebiasaan over sharing di media sosial yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan. Generasi muda diminta tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal di dunia maya, serta tidak sembarangan membagikan data pribadi maupun mengirim uang.
“Kita harus PeKA, yakni Peduli, Kenali, dan Adukan. Jangan pernah membagikan OTP atau PIN, cek keaslian situs dan akun resmi, jangan scan QRIS sembarangan, dan segera laporkan jika terjadi penipuan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan semakin bijak, cerdas, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan layanan digital, sekaligus mampu melindungi diri dari ancaman kejahatan siber yang kian kompleks. (ivan)