Event Sepi, Ekonomi Ikut Lesu? Asperapi Jatim Bongkar Dampak Efisiensi

komunitas | 05 Mei 2026 08:01

Event Sepi, Ekonomi Ikut Lesu? Asperapi Jatim Bongkar Dampak Efisiensi
Gelaran Bank Jatim Jazz Traffic Festival 2025, Sabtu 27 Sepetember 2025 lalu yang melibatkan UMKM sebagai tenant untuk membangkitkan perekonomian lokal. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co - Industri kreatif di Jawa Timur mulai “kehabisan panggung”. Kebijakan efisiensi anggaran disebut jadi biang kerok turunnya aktivitas event hingga 40 persen sejak 2025.

 

Sektor industri kreatif dan penyelenggaraan event di Jawa Timur tengah menghadapi tekanan serius. Ketua Umum DPD Asperapi Jatim, Yusuf Karim Ungsi, mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas sudah terasa sejak awal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Dilansir dari suarasurabaya.net, Selasa, (5/5/2026).

 

Menurut Yusuf, penurunan kegiatan event mencapai 30 hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Harapan kebangkitan pasca-Lebaran 2026 pun belum terlihat, dengan kondisi pasar yang masih cenderung melandai.

 

“Sejak 2025, teman-teman sudah merasakan penurunan. Pemerintah memang tidak terlalu fokus pada seremoni,” ujarnya dalam program Wawasan Suara Surabaya, Senin, (4/5/2026).

 

 

 

Ia menyoroti adanya persepsi keliru yang menganggap event sebagai kegiatan konsumtif dan pemborosan anggaran. Padahal, menurutnya, event justru memberikan efek berantai (multiplier effect) yang besar bagi ekonomi.

 

Yusuf mencontohkan gelaran Bank Jatim Jazz Traffic Festival 2025 yang mampu menggerakkan banyak sektor, mulai dari UMKM, pedagang kecil, hingga perhotelan dan restoran.

 

“Event itu produktif. Banyak yang hidup dari situ, dari tukang parkir sampai UMKM,” tegasnya.

 

Lebih jauh, lesunya industri event ini juga berdampak pada sekitar 3,8 juta pekerja kreatif di Jawa Timur yang kini terancam kehilangan penghasilan.

 

Untuk bertahan, Yusuf mendorong pelaku industri agar lebih adaptif, termasuk memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) serta melakukan diversifikasi usaha.

 

 

Selain itu, Asperapi juga telah berkoordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia guna mencari solusi bersama pemerintah, agar kebijakan efisiensi tidak mematikan sektor kreatif.

 

“Mau tidak mau, kita harus siap. Saat kondisi membaik, kita harus langsung bisa ngegas,” pungkasnya.

 

Di tengah efisiensi, industri kreatif diuji: bertahan dengan inovasi atau perlahan ditinggalkan pasar. (ivan)