Salah satu kegiatan yang menarik perhatian publik adalah diskusi bertajuk "Cara Berpikir yang Ditakuti Rezim" bersama akademisi Soe Tjen. Diskusi tersebut dihadiri peserta dari berbagai daerah, termasuk Gresik.
Salah seorang peserta, Nada (27), menilai forum seperti ini membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami persoalan sosial secara lebih kritis.
Menurutnya, ruang diskusi independen menjadi sarana edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar berani berpikir logis dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Meski dijalankan secara swadaya oleh para penggeraknya yang sebagian besar bekerja di sektor formal, Cakrawala Kata berkomitmen menjaga keberlanjutan gerakan literasi tersebut. Komunitas ini berharap dapat mewujudkan sekolah alternatif berbasis kebudayaan, di mana seni, literasi, kreativitas, dan dialog menjadi fondasi utama pembelajaran bagi masyarakat.
Di tengah tantangan dunia pendidikan modern, kehadiran ruang belajar berbasis komunitas seperti Cakrawala Kata menjadi contoh bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dapat tumbuh dari percakapan, karya sastra, seni, dan semangat berbagi pengetahuan.
(int)