SURABAYA, PustakaJC.co – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Surabaya, sebuah warung bergaya pedesaan menghadirkan konsep pendidikan yang berbeda. Melalui komunitas Cakrawala Kata, ruang sederhana tersebut disulap menjadi tempat belajar alternatif yang menggabungkan sastra, seni, literasi, budaya, hingga diskusi publik dalam suasana yang santai dan inklusif.
Berlokasi di kawasan yang dipenuhi pepohonan, tanaman hijau, serta hewan seperti kelinci dan kuda, ruang tersebut menjadi tempat berkumpul anak-anak, pelajar, mahasiswa, pekerja, seniman, hingga masyarakat umum untuk belajar bersama tanpa memandang usia maupun latar belakang.
Program Director Cakrawala Kata, Indra Surya Purnomo, mengatakan komunitas tersebut lahir dari keinginan menghadirkan sekolah alternatif yang membebaskan cara berpikir masyarakat melalui seni, literasi, dan kebudayaan.
"Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang membebaskan. Bukan tanpa aturan, tetapi membebaskan manusia untuk berpikir kritis dan tidak bergantung sepenuhnya pada pendidikan formal," ujarnya.
Cakrawala Kata bermula dari perpustakaan kecil yang berdampingan dengan sebuah kedai kopi. Tempat itu kemudian menjadi titik temu jurnalis, seniman, penyair, fotografer, pekerja kreatif, hingga pegiat literasi yang memiliki kesamaan visi untuk berbagi ilmu kepada masyarakat.
Sejak resmi bergerak sebagai komunitas pada 2024, berbagai kegiatan rutin digelar, mulai dari kelas menulis, jurnalistik, fotografi, musik, bedah buku, diskusi publik, stand up poetry, pertunjukan pantomim, hingga pelatihan seni.
Bagi anak-anak, pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan alam. Mereka diajak mengenal lingkungan melalui aktivitas mewarnai, mendongeng, berkebun, memberi makan kelinci, hingga berinteraksi dengan kuda sebagai bagian dari proses belajar yang menyenangkan.
Sementara bagi remaja dan masyarakat umum, ruang ini menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menulis, sastra, dan jurnalistik. Sejumlah peserta bahkan berhasil meraih prestasi dalam berbagai kompetisi kepenulisan.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian publik adalah diskusi bertajuk "Cara Berpikir yang Ditakuti Rezim" bersama akademisi Soe Tjen. Diskusi tersebut dihadiri peserta dari berbagai daerah, termasuk Gresik.
Salah seorang peserta, Nada (27), menilai forum seperti ini membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami persoalan sosial secara lebih kritis.
Menurutnya, ruang diskusi independen menjadi sarana edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar berani berpikir logis dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Meski dijalankan secara swadaya oleh para penggeraknya yang sebagian besar bekerja di sektor formal, Cakrawala Kata berkomitmen menjaga keberlanjutan gerakan literasi tersebut. Komunitas ini berharap dapat mewujudkan sekolah alternatif berbasis kebudayaan, di mana seni, literasi, kreativitas, dan dialog menjadi fondasi utama pembelajaran bagi masyarakat.
Di tengah tantangan dunia pendidikan modern, kehadiran ruang belajar berbasis komunitas seperti Cakrawala Kata menjadi contoh bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dapat tumbuh dari percakapan, karya sastra, seni, dan semangat berbagi pengetahuan.
(int)