Selain kapasitas keilmuan, integritas KH Miftachul Akhyar juga dinilai menjadi alasan penting untuk kembali dipercaya memimpin Syuriyah PBNU.
Ridwan menyebut keputusan KH Miftachul Akhyar mundur dari jabatan Ketua Umum MUI pada 2022 menjadi salah satu contoh komitmennya untuk berkhidmah tanpa rangkap jabatan.
Menurut Ridwan, sikap tersebut menunjukkan komitmen KH Miftachul Akhyar dalam menjaga amanah organisasi tanpa membawa kepentingan lain.
Ia juga menyinggung peran KH Miftachul Akhyar ketika NU menghadapi persoalan kepemimpinan. Dalam situasi tersebut, menurutnya, KH Miftachul Akhyar menegaskan kembali otoritas Syuriyah.
Keputusan yang didukung 36 pengurus wilayah tersebut kemudian membawa pelaksanaan Muktamar dipercepat dan berlangsung dengan tertib. KH Miftachul Akhyar juga disebut berperan sebagai perekat dengan memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin menjelang Muktamar.
Pengabdian KH Miftachul Akhyar juga disebut mendapat pengakuan dari negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden.