Bawa Batik Keluar dari Museum, HBN 2026 Disulap Jadi 'Ruang Pengalaman' Gen Z di Surabaya

komunitas | 19 September 2026 17:53

Bawa Batik Keluar dari Museum, HBN 2026 Disulap Jadi 'Ruang Pengalaman' Gen Z di Surabaya
Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya. (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co -  Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 yang dipusatkan di Kota Surabaya pada 30 September hingga 4 Oktober mendatang bakal tampil beda. Tak lagi sekadar dipajang pasif di etalase pameran formal, warisan budaya takbenda Indonesia ini dirancang menyatu langsung dengan ruang publik dan gaya hidup generasi muda.

 

 

Langkah berani tersebut diusung oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI). Selain menyoroti kekayaan motif Batik Tulungagung sebagai ikon utama Jawa Timur tahun ini, ajang perayaan tersebut menyajikan atraksi spektakuler bertajuk Batik Berlayar di sepanjang Sungai Kalimas. Dilansir dari surabayapagi.com, Sabtu, (19/9/2026).

 

 

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap batik. Di tengah fakta bahwa 80 persen produk manufaktur nasional diserap pasar domestik, keberlanjutan regenerasi perajin sangat bergantung pada kepedulian konsumen dalam negeri, khususnya anak muda.

 

 

“Kalau konsumen dalam negeri tidak peduli, ini ancaman buat industri batik. Kita tidak ingin perajin atau kota batik itu hanya tinggal sejarah. Harus ada dampak nyata pada penghidupan yang layak bagi perajin,” ujar Reni dalam konferensi pers di Surabaya.

 

 

Pendekatan Imersif dan Batik Berlayar

 

Ketua Umum YBI, Gita Pratama Kartasasmita, menjelaskan bahwa HBN 2026 didesain sebagai experiential space (ruang pengalaman) agar anak muda menemukan alasan personal untuk mencintai batik.

 

Di pusat kegiatan Grand Atrium dan Koridor Tunjungan Plaza 3, pameran tidak hanya menampilkan deretan kain wastra Nusantara dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.

 

Pengunjung diajak berinteraksi langsung melalui teknologi Augmented Reality (AR), touchscreen immersive experience, workshop digital berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk UKM, hingga kompetisi konten kreatif.

 

 

Puncak atraksi interaktif ini ditandai dengan aksi Batik Berlayar pada 2 Oktober 2026. Perahu-perahu berhias ornamen batik khas Jawa Timur akan menyusuri Sungai Kalimas dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel), diiringi pertunjukan tari, musik perkusi, dan permainan cahaya (light show).

 

“Kalau biasanya kita membawa batik ke dalam gedung-gedung pameran, kali ini kita membawa batik berlayar di ruang publik. Melestarikannya bukan berarti membuat batik berhenti di masa lalu, tapi memastikan batiknya punya masa depan,” tegas Gita.

 

Sorot Karakter Klasik Batik Tulungagung

 

Dalam perhelatan tahun ini, Batik Tulungagung dipilih sebagai sorotan utama. Ketua Panitia HBN 2026, Wira, menyebutkan filosofi di balik Batik Berlayar adalah membawa kejayaan batik lokal menuju panggung dunia. Motif klasik khas Tulungagung seperti Lurik Ruyung, Robo, Gajah Mindo, Bawang, Majanan, dan Karangbret dinilai masih mempertahankan teknik serta estetika otentik yang kuat.

 

 

Selain agenda pameran dan pertunjukan seni di sungai, puncak acara pada 2 Oktober juga akan diisi dengan Kuliah Umum yang disampaikan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

 

Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sentuhan teknologi digital, HBN 2026 di Surabaya diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan pemantik ekosistem industri kreatif batik yang berkelanjutan. (ivan)