Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dirujuk Kementerian Kesehatan, prevalensi gangguan refraksi pada anak meningkat dari sekitar 26 persen pada 2013 menjadi 40 persen pada 2023.
Melalui program tersebut, siswa dari 15 sekolah di Gresik dan Lamongan mendapatkan edukasi mengenai kesehatan mata serta pemeriksaan penglihatan.
Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli mengatakan penglihatan yang optimal menjadi salah satu fondasi penting bagi anak dalam proses belajar dan perkembangan.
Menurutnya, perhatian terhadap miopia tidak hanya sebatas mengetahui jumlah kasus, tetapi juga bagaimana mencegah pertumbuhannya melalui pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
“Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya jumlah kasusnya, tetapi juga bagaimana menekan pertumbuhan mata minus pada anak melalui pemeriksaan dan penanganan yang tepat,” katanya.