SURABAYA, PustakaJC.co – Di tengah padatnya arus lalu lintas Jalan Jakarta, Surabaya, berdiri sebuah saksi bisu kejayaan teknologi infrastruktur masa kolonial: Jembatan Petekan. Meski tak lagi berfungsi, jembatan ini menyimpan jejak penting sejarah maritim dan tata kota Surabaya di era Hindia Belanda.
Jembatan Petekan awalnya bernama De Admiraal Ferwerdabrug, diambil dari nama Laksamana Hendrikus Ferwerda, panglima angkatan laut Belanda. Penamaan ini menegaskan posisi strategis jembatan yang berada dekat jalur vital Sungai Kalimas dan kawasan pelabuhan. Dilansir dari detik.com, Minggu, (1/2/2026).
Nama “Petekan” sendiri lahir dari lidah warga Surabaya. Dalam bahasa Jawa, dipetek berarti ditekan. Sebutan ini merujuk pada cara kerja jembatan yang dulu bisa naik-turun dengan sistem mekanis berbasis tombol, sebuah teknologi maju pada masanya.
Dibangun awal 1900-an dan resmi beroperasi pada 16 Desember 1939, Jembatan Petekan menggunakan konstruksi baja dengan penggerak listrik. Proyek ini melibatkan N.V. Machinefabriek Braat untuk struktur fisik dan Hemaaf asal Belanda untuk sistem kelistrikan, dengan biaya mencapai 130.000 gulden—angka fantastis kala itu.
Fungsi utama jembatan angkat ini adalah menjaga kelancaran lalu lintas Sungai Kalimas, yang dulu menjadi jalur utama distribusi logistik dan perdagangan. Saat kapal besar melintas, jembatan akan terangkat, lalu kembali diturunkan setelah jalur air aman.