Inflasi Surabaya Awal 2026 Terkendali, Pemkot Pastikan Pasokan Pangan Aman Jelang Lebaran

surabaya | 13 Maret 2026 13:52

Inflasi Surabaya Awal 2026 Terkendali, Pemkot Pastikan Pasokan Pangan Aman Jelang Lebaran
Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar Pemkot Surabaya untuk menstabilkan harga bahan pokok menjelang lebaran. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya memastikan pasokan bahan pangan tetap aman meski inflasi pada awal 2026 mengalami kenaikan. Sejumlah langkah pengendalian harga terus dilakukan agar kebutuhan pokok masyarakat tetap terjangkau menjelang Hari Raya Idulfitri.

 

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Surabaya secara year on year (yoy) pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,11 persen. Angka ini tergolong cukup tinggi, namun masih sejalan dengan tren inflasi di tingkat provinsi maupun nasional. Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (13/3/2026).

 

Meski demikian, jika dilihat dari indikator year to date (ytd), inflasi Surabaya dinilai masih terkendali. Sejak Januari hingga Februari 2026, inflasi tercatat 0,83 persen, sehingga masih berada dalam batas aman.

 

“Kalau kita lihat secara year to date, Surabaya masih di angka 0,83 persen. Jadi sebenarnya masih dalam batas aman,” ujar Vykka, Jumat, (13/3/2026).

 

 

Ia menjelaskan, inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh harga bahan pokok, tetapi juga sejumlah komoditas lain seperti emas dan tarif angkutan udara. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, dua komoditas tersebut menjadi penyumbang inflasi terbesar di Surabaya.

 

Pada periode Januari hingga Februari 2026, tarif angkutan udara tercatat sebagai salah satu faktor dominan yang mendorong kenaikan inflasi. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut menjelang masa libur Lebaran 1447 Hijriah karena meningkatnya permintaan perjalanan masyarakat.

 

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Surabaya mengintensifkan berbagai program stabilisasi pasar, mulai dari Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, hingga inspeksi mendadak di pasar tradisional dan distributor bahan pokok.

 

 

 

Dari kelompok pangan, komoditas cabai menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dipicu faktor cuaca, terutama musim hujan yang memengaruhi produksi dan distribusi.

 

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Surabaya juga bekerja sama dengan Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PISS) untuk menyediakan cabai dengan harga lebih terjangkau melalui program pasar murah dan GPM.

 

Di sisi lain, pemerintah kota juga terus memantau harga beras, khususnya beras premium yang banyak dikonsumsi masyarakat. Untuk menjaga keterjangkauan harga, Pemkot menggandeng **Perum Bulogdalam penyediaan beras melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).

 

Saat ini, harga beras premium di Surabaya masih relatif stabil di kisaran Rp16 ribu per kilogram dan belum menunjukkan lonjakan signifikan di pasaran. (ivan)