Di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi, kebijakan rusunami menjadi bagian dari visi pembangunan yang lebih inklusif. Tidak hanya fokus pada infrastruktur, Pemkot juga membangun ekosistem kehidupan—mulai dari hunian, pendidikan, hingga akses ekonomi.
Rusunami ini terintegrasi dengan program lain seperti rusunawa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Artinya, hunian tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi pintu masuk peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.
Pemkot menargetkan program ini menjangkau lebih banyak warga secara bertahap, dengan memperhatikan lokasi strategis, konektivitas transportasi, dan ketepatan sasaran.
Di tengah ambisi menjadi kota global, Surabaya tampak memilih jalur yang lebih membumi: memastikan warganya, terutama generasi muda, tidak tersisih dari kotanya sendiri. Rusunami pun menjadi simbol bahwa kemajuan kota tak hanya soal gedung tinggi, tetapi juga tentang siapa yang bisa tinggal dan hidup layak di dalamnya. (ivan)