SURABAYA, PustakaJC.co — Pemerintah Kota Surabaya mulai menata langkah menuju kota global dengan pendekatan yang tak biasa: menyediakan hunian terjangkau bagi generasi muda. Lewat program rumah susun sederhana milik (rusunami), Gen Z kini punya peluang memiliki tempat tinggal dengan harga mulai Rp125 juta per unit.
Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kota dan kesejahteraan warganya. Di tengah pesatnya urbanisasi, banyak anak muda selama ini hanya menjadikan kota sebagai tempat bekerja—bukan tempat membangun kehidupan. Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (10/4/2026).
Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, M. Isa Ansori, menilai kondisi ini sebagai tantangan serius di kota-kota besar.
“Generasi muda kerap menjadikan kota hanya sebagai tempat bekerja, bukan ruang hidup. Padahal, fase awal rumah tangga butuh stabilitas, termasuk akses hunian,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi, kebijakan rusunami menjadi bagian dari visi pembangunan yang lebih inklusif. Tidak hanya fokus pada infrastruktur, Pemkot juga membangun ekosistem kehidupan—mulai dari hunian, pendidikan, hingga akses ekonomi.
Rusunami ini terintegrasi dengan program lain seperti rusunawa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Artinya, hunian tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi pintu masuk peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.
Pemkot menargetkan program ini menjangkau lebih banyak warga secara bertahap, dengan memperhatikan lokasi strategis, konektivitas transportasi, dan ketepatan sasaran.
Di tengah ambisi menjadi kota global, Surabaya tampak memilih jalur yang lebih membumi: memastikan warganya, terutama generasi muda, tidak tersisih dari kotanya sendiri. Rusunami pun menjadi simbol bahwa kemajuan kota tak hanya soal gedung tinggi, tetapi juga tentang siapa yang bisa tinggal dan hidup layak di dalamnya. (ivan)