Sampah plastik tersebut kemudian akan diolah menggunakan teknologi pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar. Hasilnya diharapkan dapat dimanfaatkan kembali oleh para nelayan sebagai bahan bakar motor tempel.
"Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mencari sampah plastik di mangrove, nanti diberikan kepada kami untuk diproses. Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan lagi untuk bahan bakar motor tempel mereka," jelas Agus.
Meski demikian, pengembangan alat pirolisis masih terkendala pendanaan sehingga proses penyelesaiannya belum sepenuhnya rampung.
Sementara itu, Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, mengatakan teknologi pirolisis memang difokuskan untuk mengolah sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai jual.
Saat ini, BRIDA menggandeng Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk melakukan riset sekaligus mengembangkan alat pirolisis tersebut.
Selain itu, BRIDA juga membuka kolaborasi riset melalui platform berbasis web BRIGHT (BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training) yang memfasilitasi mahasiswa, dosen, peneliti, hingga masyarakat dalam kegiatan riset, magang, dan pengembangan inovasi di Kota Surabaya.(nov)