SURABAYA, PustakaJC.co - Kebiasaan masyarakat Indonesia yang menganggap "belum makan jika belum makan nasi" bukan sekadar pola konsumsi biasa, melainkan hasil dari konstruksi sosial yang terbentuk dari sejarah panjang, politik pangan, dan norma budaya.
Hal tersebut diulas oleh mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, Hafsya Raimadhani Halim. Ia menyoroti fenomena unik masyarakat lokal yang kerap menyandingkan nasi dengan berbagai hidangan berkarbohidrat lain, seperti mie, martabak telur, dimsum, hingga pizza. Dilansjr dari kumparan.com, Kamis, (10/9/2026).
Jejak Sejarah dan Politik "Beras-Sentris"
Sejarawan Fadly Rahman mencatat bahwa budidaya padi di Indonesia telah berlangsung sejak era Jawa Kuno pada masa Kerajaan Hindu-Buddha, terpengaruh oleh interaksi dengan India dan Cina serta didukung iklim subtropis yang subur.
Namun, dominasi nasi semakin menguat akibat kebijakan politik pangan nasional. Program Swasembada Beras yang dijalankan pada era kepemimpinan Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Prabowo Subianto dinilai memperkokoh pola pikir "beras-sentris". Dampaknya, keanekaragaman pangan lokal seperti umbi-umbian terpinggirkan dan kerap dipandang inferior sebagai makanan masyarakat pedesaan.
Konstruksi Sosial Kebiasaan Makan Nasi
Merujuk pada teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, kebiasaan ini terbentuk melalui tiga tahapan utama:
- Eksternalisasi: Berawalnya tradisi bercocok tanam padi sejak era Jawa Kuno yang diperkuat oleh kebijakan swasembada beras pemerintah, serta terbentuknya stigma bahwa nasi adalah simbol kesejahteraan.
- Objektivasi: Ide tersebut mewujud dalam tindakan sehari-hari, di mana masyarakat secara bertahap menjadikan nasi sebagai konsumsi wajib harian.
- Internalisasi: Norma ini terserap sepenuhnya ke dalam pola pikir masyarakat, sehingga mengombinasikan nasi dengan jenis makanan apa pun dianggap wajar dan menjadi bagian dari identitas kuliner sehari-hari.
Melalui kacamata sosiologi, kebiasaan mengonsumsi nasi bersama hidangan apa pun terbukti bukan sekadar masalah selera, melainkan warisan sejarah dan konstruksi sosial yang telah mengakar kuat. Selama cara pandang "beras-sentris" ini terus hidup di tengah masyarakat, piring orang Indonesia akan selalu menyisakan ruang utama bagi nasi. (ivan)