Ia menjelaskan, kemandirian ekonomi dan latar belakang pendidikan turut berperan dalam meningkatnya keberanian perempuan untuk mengakhiri pernikahan yang dinilai tidak sehat. Perempuan yang memiliki pendidikan dan penghasilan, kata Atika, cenderung tidak lagi bergantung secara finansial sehingga memiliki ruang lebih besar untuk menentukan pilihan hidupnya.
“Ketika perempuan tidak lagi khawatir soal pemenuhan kebutuhan ekonomi atau pengasuhan anak setelah berpisah, mereka lebih berani bertindak. Pendidikan dan ekonomi memberi daya tawar dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.
Meski demikian, Atika menegaskan bahwa tingginya angka gugatan cerai tidak bisa digeneralisasi hanya dari satu faktor. Setiap rumah tangga memiliki dinamika dan permasalahan yang berbeda.