SURABAYA, PustakaJC.co — Industri pembiayaan (multifinance) menghadapi tekanan signifikan sepanjang 2025. Kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta kenaikan biaya dana menjadi tantangan utama yang menekan margin perusahaan di sektor ini.
“Pencapaian ini menunjukkan pengelolaan risiko yang prudent serta konsistensi dalam menjalankan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika dan persaingan industri pembiayaan,” ujarnya dalam keterangan resmi. Demikian dikutip dari Jawapos.com, selasa, (31/3/2026).
Situasi tersebut membuat pelaku industri harus semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan, sekaligus menjaga kualitas kredit agar tetap sehat. Di tengah tekanan tersebut, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) justru mampu mencatatkan kinerja yang tetap positif.
Hal ini terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin (30/3). Perseroan melaporkan penyaluran pembiayaan baru mencapai Rp 5,94 triliun, tumbuh 9,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan meningkat menjadi Rp 7,37 triliun atau naik 6,08 persen secara tahunan. Sementara itu, ekuitas juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,81 persen menjadi Rp 1,98 triliun.
Direktur WOM Finance, Cincin Lisa Hadi, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penerapan prinsip kehati-hatian.
Dari sisi profitabilitas, WOM Finance berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 142,55 miliar. Rasio pengembalian aset (ROA) tercatat 2,41 persen, sementara pengembalian ekuitas (ROE) berada di level 7,45 persen.
Kualitas pembiayaan juga tetap terjaga, tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) gross sebesar 2,17 persen dan NPF net sebesar 0,95 persen.
Presiden Direktur WOM Finance, Djaja Suryanto Sutandar, turut mengapresiasi dukungan para pemangku kepentingan yang berperan dalam menjaga kinerja perusahaan tetap solid.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan seluruh stakeholder sehingga perseroan dapat mempertahankan kinerja yang baik di tengah tantangan ekonomi,” ujarnya.
Selain pengesahan laporan keuangan, RUPST juga menyetujui penggunaan laba bersih serta perubahan susunan pengurus. Perseroan juga memperkuat struktur pendanaan dengan menerbitkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun dan memperoleh tambahan fasilitas kredit perbankan sebesar Rp 1,65 triliun sepanjang 2025.
Langkah tersebut diambil guna menjaga likuiditas serta mendukung keberlanjutan pembiayaan di tengah meningkatnya kebutuhan dana.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham juga menyetujui perubahan anggaran dasar serta rencana pengalihan atau penjaminan piutang. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat fleksibilitas pendanaan.
Ke depan, tekanan di industri multifinance diperkirakan masih akan berlanjut. Namun, perusahaan yang mampu menjaga kualitas pembiayaan serta disiplin dalam pengelolaan risiko diyakini tetap memiliki peluang untuk tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi. (frcn)