SURABAYA, PustakaJC.co — Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Kenaikan ini dipicu oleh dinamika global, termasuk penutupan Selat Hormuz, yang berdampak pada lonjakan harga energi dan nilai tukar rupiah, Kamis (30/4/2026).
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Wasiaturrahma, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi diperkirakan menyumbang inflasi sekitar 0,06 persen. Namun, tekanan terhadap rupiah yang mendekati Rp17.200 per dolar AS berpotensi memperbesar dampak tersebut. Demikian dilansir dari jatim.tribunnews.com, Kamis (30/4/2026).
“Harga dapat bervariasi antarprovinsi, misalnya di Sumatera Utara atau Kalimantan yang cenderung lebih tinggi sekitar Rp300 hingga Rp600,” ujarnya.