SURABAYA, PustakaJC.co – Isu kesehatan mental di kalangan remaja kini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan. Kondisi psikologis yang sehat dinilai sebagai fondasi penting untuk menunjang proses belajar, perkembangan sosial, serta kualitas hidup peserta didik di masa depan, Selasa (12/5/2026).
Psikolog dari Universitas Airlangga, Wiwin Hendriani, menegaskan bahwa program kesejahteraan psikologis atau well-being di lingkungan sekolah tidak boleh dipandang sebagai pelengkap semata. Menurutnya, jika tidak dirancang dan diterapkan secara tepat, persoalan kesehatan mental dapat berdampak panjang terhadap perkembangan remaja.
“Kesejahteraan dalam pendidikan bukanlah isu sampingan, ini adalah isu sentral. Di Asia Tenggara, tantangan yang dihadapi bukan hanya tingginya jumlah kasus, tetapi juga minimnya keterbukaan terhadap masalah kesehatan mental serta rendahnya akses terhadap layanan bantuan profesional,” ujar Wiwin. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data global, satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Kawasan Asia Pasifik sendiri menampung sekitar 60 persen populasi remaja dunia, sehingga menjadi wilayah dengan beban kasus kesehatan jiwa remaja yang sangat besar.
Lebih memprihatinkan, bunuh diri kini masuk dalam tiga hingga lima besar penyebab kematian utama pada kelompok usia remaja secara global. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini, edukasi, serta dukungan psikologis yang mudah diakses.
Menurut Wiwin, persoalan utama di sekolah bukan terletak pada minimnya jumlah program kesehatan mental, melainkan pada desain pelaksanaannya yang sering bersifat jangka pendek dan bergantung pada inisiatif individu tertentu, seperti guru atau penggerak kegiatan.
Ia menilai program well-being perlu diintegrasikan ke dalam budaya sekolah agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan bebas stigma, sehingga remaja tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis. (frchn)