Kelompok yang lebih rentan mengalami keluhan tersebut antara lain penderita osteoartritis, spondilosis servikal, frozen shoulder, nyeri punggung bawah, hingga mereka yang memiliki riwayat cedera. Lansia juga lebih sering mengalami nyeri sendi saat berada di ruangan ber-AC karena massa otot yang berkurang dan kondisi degeneratif pada persendian.
Meski demikian, Mody menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa AC dapat menyebabkan osteoporosis atau melemahkan tulang secara langsung. Risiko yang lebih perlu diperhatikan justru berasal dari kurangnya aktivitas fisik, minim paparan sinar matahari, dan kurang minum air.
Ia mengingatkan bahwa kekurangan vitamin D masih banyak ditemukan pada masyarakat perkotaan yang lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Padahal, vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan tulang.
Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan kelemahan otot, mudah lelah, nyeri tulang, hingga meningkatkan risiko patah tulang pada kondisi yang lebih berat.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul berulang, seperti leher dan punggung yang terus terasa kaku, nyeri lutut setelah duduk lama, kram otot, bahu tegang, kesemutan pada tangan, tubuh pegal saat bangun pagi, hingga rasa lelah berkepanjangan. Gejala tersebut bisa menjadi tanda masalah postur tubuh, ketegangan otot, kekurangan vitamin D, atau gangguan persendian.
Untuk mencegah keluhan, Mody menyarankan menjaga suhu AC pada kisaran 24–26 derajat Celsius, menghindari paparan udara dingin secara langsung ke tubuh, berdiri dan berjalan setiap 30–45 menit, mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan kursi ergonomis, serta rutin berolahraga dan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga kesehatan otot dan sendi bagi mereka yang bekerja atau beraktivitas di ruangan ber-AC sepanjang hari. (nov)